Senin, 13 Oktober 2008

Fenomena Bung Karno, Sang Proklamator

Fenomena Bung Karno

Sang Proklamator

Kota kecil yang mulai dijejali dengan toko-toko ataupun ruko-ruko dengan berbagai macam barang atau jasa yang ditawarkan, itulah Kota Blitar. Kota yang sering dikenal dengan perjuangan Peta oleh Sodancho Supriadi, dan juga kota yang dikenal oleh bangsa ini sebagai kota kelahiran sang Proklamator, Bung Karno, sebuah image yang terus terngiang dalam telinga setiap penduduk di kota ini, bahkan penduduk negeri ini. Kota Blitar, bila mengingat tempat ini pada jaman kerajaan dahulu, tempat ini adalah dimana Raden Wijaya juga akhirnya dimakamkan di kota ini. Semua itu seperti mengisyaratkan bahwa kota ini adalah kota untuk beristirahat, kota yang jauh dari keramaian duniawi, kota yang selalu tenang, seperti itu kata orang-orang tua di sini.

Bung Karno, beliau lahir di kota ini dan juga akhirnya pun dimakamkan di sini pula, seorang tokoh yang selalu di puja di kota ini, dan bahkan ada yang bilang, “Siapapun Presidennya, Presiden kami tetap Bung Karno”, sungguh besar kebanggaan kota ini terhadap Sang Proklamator.

Sebuah makam yang dulunya hanya sebuah kompleks pemakaman kecil, dengan sebuah pendopo makam utama untuk Sang Proklamator ini, kini menjadi sebuah kompleks yang sangat indah, terdapat sebuah Museum, Perpustakaan Internasional, dan juga tentunya Makam Bung Karno.

Penduduk sekitar menjadi pihak yang sangat diuntungkan, peziarah-peziarah semakin banyak berdatangan, hingga kios-kios souvenir penduduk sekitar tak sepi dari para pembeli. Kios-kios souvenir ini berjajar memadati setiap pinggir jalan raya menuju Komplek Makam Bung Karno, hingga kita tak akan pernah berhenti untuk membaca tulisan “Soekarno” ketika kita berjalan melewati jalan tersebut. Bahkan tak hanya kios-kios souvenir, berbagai macam warung, restoran, hotel, motel, dan sebagainya bisa dijumpai di sekitar jalan ini.

Kompleks Makam Bung Karno membujur lurus dari Selatan ke Utara, dari pintu masuk hingga ke makam. Di mulai dengan sebuah taman di depan, para peziarah atau pengunjung disuguhi dengan eksentriknya tampak bangunan Museum di sebelah kiri (barat) dan Perpustakaan di sebelah kanan (timur). Sebuah tampak yang disajikan berbeda dengan keadaan lingkungan di sekitar, menjadikan bangunan ini berciri khas dan berbeda, warna abu-abu dari batu blok sebagai tampilan luar bangunan, menggambarkan bangunan ini kokoh dan tegas serta sejuk. Kaca-kaca yang transparan mengisyaratkan bangunan ini juga terbuka bagi umum, bagi semua kalangan dan golongan, tak membedakan siapapun.

Dari taman, menuju ke dalam, terdapat sebuah anak tangga turun menuju lorong antara kedua bangunan di kanan dan di kiri yang seakan terpisah, namun sebenarnya adalah satu bagian. Sebuah lorong yang megah, dengan tiang-tiang bulat menjulang ke atas, entah tak tau pasti apa maksud sang arsitek, namun tiang-tiang tersebut memberi aksen yang kuat pada bangunan istimewa ini, bangunan yang monumental. Di tengah-tengah lorong menuju bagian selanjutnya kompleks ini terdapat sebuah patung besar, yaitu patung Sang Proklamator, Bung Karno, duduk di sebuah kursi dengan kaki menyilang memangku sebuah buku yang terbuka sedang dipegang tangannya, dengan tatapan tajam mata Sang Proklamator menuju para peziarah atau pengunjung dari lorong masuk. Sungguh penghayatan dan pengalaman suasana hati yang tajam dan menusuk. Tersenyum hati menjiwai tatapan itu.

Di sebelah kiri dan kanan patung tersebut, terdapat pintu masuk Perpustakaan di sebelah timur dan Museum di sebelah barat. Ada sebuah tanda “No Camera Please”, sebagai tanda bagi para pengunjung untuk tidak mengambil gambar di dalam kedua area tersebut, agar tidak mengganggu suasana yang ada di dalam Perpustakaan maupun di dalam Museum.

Perpustakaan ini mempunyai koleksi buku yang sangat berharga, dari berbagai macam ilmu pengetahuan, buku-buku ensiklopedi, hingga tentunya buku-buku tentang Bung Karno bahkan buku-buku karya Bung Karno sendiri di masa hidupnya. Perpustakaan terdiri dari dua lantai, begitu juga area Museum. Kedua area ini terhubung oleh jembatan di lantai dua, tepat di depan atas patung (statue) dan di belakang atas patung. Jadi pengunjung dapat menyapa patung Bung Karno, baik dari atas maupun dari bawah. Sebuah pendalaman yang indah bagi Sang Presiden RI pertama ini. Pemimpin itu terkadang di atas dan juga terkadang di bawah pula, ada saatnya di depan sebagai pemimpin ada pula saatnya menjadi pelayan bagi rakyatnya. Sungguh…

Setelah lorong tersebut dilalui, terdapat seperti boulevard yang terbuka, hamparan perkerasan dan kolam menjadi pemandangan yang segar, dengan dikelilingi berbagai ornamen. Di sebelah timur terdapat sebuah relief, yang salah satu isinya adalah relief teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang di tanda tangani oleh Soekarno-Hatta. Tiang-tiang bulat menjulang ke atas terus menerus menghiasi dan menuntun jalan para peziarah dan pengunjung. Di sebelah barat terdapat bengunan kios penjualan souvenir dan buku-buku dari pengelola bangunan (official kiosk).

Dari sini para peziarah dan pengunjung dibimbing menuju anak tangga naik menuju area pendopo makam. Sebuah gapura candi menandai jalan masuk menuju pendopo. Sebuah pendopo yang kini sungguh terbuka bagi pengunjung. Para peziarah duduk berjajar, bersila, membuka kedua tangan mereka ke atas, memohon do’a, untuk diri mereka dan untuk Sang Proklamator. Batu nisan makam sang Proklamator adalah bongkahan batu besar yang diletakkan di atas makamnya, yang konon dahulu pernah terlihat seperti muka harimau apabila di foto, entah itu benar atau tidak, entah itu pertanda apa, tetapi kejadian itu muncul ketika negeri ini sedang dalam guncangan hebat era Reformasi.

Suasana hening selalu menghiasi area pendopo ini, kehikmatan para peziarah selalu terasa, meskipun sedang ramai sekali. Terasa sejuk…

Maaf apabila tidak ada foto atau gambar makam Bung Karno, sebenarnya ada, tapi sengaja tak ditampilkan, apabila hati penasaran, silakan singgah ke kota kecil ini, Kota Blitar….

Terima kasih.



Ditulis oleh

Muhammad Hallala (I0205093)

Photograph by

Muhammad Hallala