Sabtu, 06 Desember 2008

Pusaka Alam dan Pusaka Saujana

Pusaka Alam dan Pusaka Saujana
http://ummul.staff.uns.ac.id/2008/12/06/pusaka-alam-dan-pusaka-saujana/

(Materi KKL Siung 2008)

(Pameran hasil KKL Siung akan digelar mulai tanggal 9 Desember 2008 di Jurusan Arsitektur FT UNS)

Senin, 13 Oktober 2008

Fenomena Bung Karno, Sang Proklamator

Fenomena Bung Karno

Sang Proklamator

Kota kecil yang mulai dijejali dengan toko-toko ataupun ruko-ruko dengan berbagai macam barang atau jasa yang ditawarkan, itulah Kota Blitar. Kota yang sering dikenal dengan perjuangan Peta oleh Sodancho Supriadi, dan juga kota yang dikenal oleh bangsa ini sebagai kota kelahiran sang Proklamator, Bung Karno, sebuah image yang terus terngiang dalam telinga setiap penduduk di kota ini, bahkan penduduk negeri ini. Kota Blitar, bila mengingat tempat ini pada jaman kerajaan dahulu, tempat ini adalah dimana Raden Wijaya juga akhirnya dimakamkan di kota ini. Semua itu seperti mengisyaratkan bahwa kota ini adalah kota untuk beristirahat, kota yang jauh dari keramaian duniawi, kota yang selalu tenang, seperti itu kata orang-orang tua di sini.

Bung Karno, beliau lahir di kota ini dan juga akhirnya pun dimakamkan di sini pula, seorang tokoh yang selalu di puja di kota ini, dan bahkan ada yang bilang, “Siapapun Presidennya, Presiden kami tetap Bung Karno”, sungguh besar kebanggaan kota ini terhadap Sang Proklamator.

Sebuah makam yang dulunya hanya sebuah kompleks pemakaman kecil, dengan sebuah pendopo makam utama untuk Sang Proklamator ini, kini menjadi sebuah kompleks yang sangat indah, terdapat sebuah Museum, Perpustakaan Internasional, dan juga tentunya Makam Bung Karno.

Penduduk sekitar menjadi pihak yang sangat diuntungkan, peziarah-peziarah semakin banyak berdatangan, hingga kios-kios souvenir penduduk sekitar tak sepi dari para pembeli. Kios-kios souvenir ini berjajar memadati setiap pinggir jalan raya menuju Komplek Makam Bung Karno, hingga kita tak akan pernah berhenti untuk membaca tulisan “Soekarno” ketika kita berjalan melewati jalan tersebut. Bahkan tak hanya kios-kios souvenir, berbagai macam warung, restoran, hotel, motel, dan sebagainya bisa dijumpai di sekitar jalan ini.

Kompleks Makam Bung Karno membujur lurus dari Selatan ke Utara, dari pintu masuk hingga ke makam. Di mulai dengan sebuah taman di depan, para peziarah atau pengunjung disuguhi dengan eksentriknya tampak bangunan Museum di sebelah kiri (barat) dan Perpustakaan di sebelah kanan (timur). Sebuah tampak yang disajikan berbeda dengan keadaan lingkungan di sekitar, menjadikan bangunan ini berciri khas dan berbeda, warna abu-abu dari batu blok sebagai tampilan luar bangunan, menggambarkan bangunan ini kokoh dan tegas serta sejuk. Kaca-kaca yang transparan mengisyaratkan bangunan ini juga terbuka bagi umum, bagi semua kalangan dan golongan, tak membedakan siapapun.

Dari taman, menuju ke dalam, terdapat sebuah anak tangga turun menuju lorong antara kedua bangunan di kanan dan di kiri yang seakan terpisah, namun sebenarnya adalah satu bagian. Sebuah lorong yang megah, dengan tiang-tiang bulat menjulang ke atas, entah tak tau pasti apa maksud sang arsitek, namun tiang-tiang tersebut memberi aksen yang kuat pada bangunan istimewa ini, bangunan yang monumental. Di tengah-tengah lorong menuju bagian selanjutnya kompleks ini terdapat sebuah patung besar, yaitu patung Sang Proklamator, Bung Karno, duduk di sebuah kursi dengan kaki menyilang memangku sebuah buku yang terbuka sedang dipegang tangannya, dengan tatapan tajam mata Sang Proklamator menuju para peziarah atau pengunjung dari lorong masuk. Sungguh penghayatan dan pengalaman suasana hati yang tajam dan menusuk. Tersenyum hati menjiwai tatapan itu.

Di sebelah kiri dan kanan patung tersebut, terdapat pintu masuk Perpustakaan di sebelah timur dan Museum di sebelah barat. Ada sebuah tanda “No Camera Please”, sebagai tanda bagi para pengunjung untuk tidak mengambil gambar di dalam kedua area tersebut, agar tidak mengganggu suasana yang ada di dalam Perpustakaan maupun di dalam Museum.

Perpustakaan ini mempunyai koleksi buku yang sangat berharga, dari berbagai macam ilmu pengetahuan, buku-buku ensiklopedi, hingga tentunya buku-buku tentang Bung Karno bahkan buku-buku karya Bung Karno sendiri di masa hidupnya. Perpustakaan terdiri dari dua lantai, begitu juga area Museum. Kedua area ini terhubung oleh jembatan di lantai dua, tepat di depan atas patung (statue) dan di belakang atas patung. Jadi pengunjung dapat menyapa patung Bung Karno, baik dari atas maupun dari bawah. Sebuah pendalaman yang indah bagi Sang Presiden RI pertama ini. Pemimpin itu terkadang di atas dan juga terkadang di bawah pula, ada saatnya di depan sebagai pemimpin ada pula saatnya menjadi pelayan bagi rakyatnya. Sungguh…

Setelah lorong tersebut dilalui, terdapat seperti boulevard yang terbuka, hamparan perkerasan dan kolam menjadi pemandangan yang segar, dengan dikelilingi berbagai ornamen. Di sebelah timur terdapat sebuah relief, yang salah satu isinya adalah relief teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang di tanda tangani oleh Soekarno-Hatta. Tiang-tiang bulat menjulang ke atas terus menerus menghiasi dan menuntun jalan para peziarah dan pengunjung. Di sebelah barat terdapat bengunan kios penjualan souvenir dan buku-buku dari pengelola bangunan (official kiosk).

Dari sini para peziarah dan pengunjung dibimbing menuju anak tangga naik menuju area pendopo makam. Sebuah gapura candi menandai jalan masuk menuju pendopo. Sebuah pendopo yang kini sungguh terbuka bagi pengunjung. Para peziarah duduk berjajar, bersila, membuka kedua tangan mereka ke atas, memohon do’a, untuk diri mereka dan untuk Sang Proklamator. Batu nisan makam sang Proklamator adalah bongkahan batu besar yang diletakkan di atas makamnya, yang konon dahulu pernah terlihat seperti muka harimau apabila di foto, entah itu benar atau tidak, entah itu pertanda apa, tetapi kejadian itu muncul ketika negeri ini sedang dalam guncangan hebat era Reformasi.

Suasana hening selalu menghiasi area pendopo ini, kehikmatan para peziarah selalu terasa, meskipun sedang ramai sekali. Terasa sejuk…

Maaf apabila tidak ada foto atau gambar makam Bung Karno, sebenarnya ada, tapi sengaja tak ditampilkan, apabila hati penasaran, silakan singgah ke kota kecil ini, Kota Blitar….

Terima kasih.



Ditulis oleh

Muhammad Hallala (I0205093)

Photograph by

Muhammad Hallala

Rabu, 17 September 2008

Catatan Perjalanan ... (bagian 2)

LIBURAN KE MALANG

Pada waktu liburan semester genap saya dan keluarga berlibur ke Malang. Pada hari minggu malam tanggal 20 juni saya dan keluarga berangkat ke malang, disaat dalam perjalanan pergi ke Malang saya dan keluarga mengalami kebingunan jalan menuju Malang. Karena beberapa kali saya dan keluarga salah jalan,tapi akhirnya kami bisa menemukan jalan ke Malang tanpa harus salah jalan lagi. Akhirnya pada pagi hari saya dan keluarga sampai di Malang.

Pada waktu di Malang saya dan keluarga tidur di tempat bulek,di sana kami beristirahat. Pada saat sore harinya saya dan keluarga pergi ke Jatim Park,di sana banyak sekali permainan seperti di ancol. Akhirnya saya bermain RoolCoaster disaat saya naik perasaan saya sangat takut sekali,waktu permainannya di mulai saya berteriak kenceng karena saya sangat ketakutan sekali. Tapi saya sangat senang sekali bisa bermain RoolCoaster,walaupun tidak seperti yang di ancol.

Di Jatim Park saya bermain Bom-Bom car,di sana juga saya meliat-liat permainan yang lain. Pada waktu sore hari saya dan keluarga pulang kerumah bulek untuk bermalam di sana. Di saat waktu saya mau tidur udaranya sangat dingin sekali,saya belun pernah merasakan udara yang sangat dingin dan sejuk pada waktu tidur. Karena udara di Solo sangat panas sekali. Akhirnya pada pagi hari saya dan keluarga melnjukan liburannya ke Taman Safari. Di sana saya melihat hewan-hewan yang belum pernah saya liat sendiri,di sana banyak sekali hewan dari beberapa daerah maupun negara lain. Di sana saya berfoto dengan beberapa hewan,perasaan saya pada saat di foto sangat takut dan geli. Tapi saya bisa menghilangkan rasa takut dan geli. Saya juga meliat hewan-hewan yang beraktraksi,saya sangat senang bisa ke Taman Safari melihat beberapa hewan yang belum saya liat.

Pada waktu siang hari saya dan keluarga melanjutkan liburannya ke Wisata Bahari Lamongan. Di saat menuju Lamongan saya dan keluarga mengalami kebingunan jalan lagi,tapi akhirnya saya dan keluarga bisa menemukan jalan menuju lamongan. Akhirnya saya dan keluarga sampai juga ke Taman bahari Lamongan,di sana saya bermain kura-kura seperti yang di ancol. Perasaan saya sangat takut sekali karena sangat tinggi, tapi saya sangat senang. Selain itu saya juga bermain perahu di pantai, pada saat saya bermain perahu di pantai saya terjatuh ke laut. Di saat saya terjatuh banyak sekali yang melihat saya. Perasaan saya sangat malu sekali,akhirnya saya mengganti baju saya yang basah. Pada waktu sore hari saya dan keluarga pulang menuju Malang untuk bermalam lagi di tempat bulek.

Pada malam harinya saya dan keluarga pulang ke Solo,tak terasa liburan nya berakhir juga. Disana perasaan saya sangat sedih dan senang,karena liburan nya harus berakhir. Saya sangat menikmati liburan pada semester genap ini,walaupun hanya sesaat. Bagi saya liburan semester genap ini sangat berkesan dan tak terlupakan.

NONIEK NURCAHYANTO I0205097

_______________________________________________________________

Ahmad Azhari Arfandi I0206118

Perjalanan ke Gua sumenep daerah pantai suing, Gunung kidul YogYakarta

Perjalana saya di mulai dari mengikuti kegiatan bakti social yang di adakan oleh beberapa UKM yang berada di fakultas teknik Universitas sebelas maret SURAKARTA, UKM2 yang ikut dalam acara tersebut di antaranya HMA ( himpunan mahasiswa arsitektur ), HMP ( himpunan mahasiswa program diploma ), & Ab ( ajustra brata Fakultas Teknik ). Semula saya tidak mengira perjalanan saya akan seseru ini, karena bayangan saya setelah saya menginjakan kaki di daerah pantai Siung saya hanya akan melakukan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pengabdian diri kita sebagai mahasisiwa kepada para masyarakat sekitar yang tinggal di daerah tersebut.

Saat itu ketika saya dan Tim Pemetaan sedang melakukan sosialisai tentang cara cara melakukan pemetaan daerah pantai sung kepada masyarakat sekitar, yang di lanjut kan dengan melakukan perjalanan atau survey langsung ke lokasi saya menanglap suatu fenomena yang sangat unik dan menarik, bias di katakana sebagai gejala arsitektur. Di mana pada saat saya melakukan perjalanan saya dan Tim Pemetaan mendapati sebuah Guo yang sangat menarik dan bisa di jadikan Obyek wisata, namun aneh nya guo tersebut jarang di kunjungi oleh Mnsyarakat luar ( pengunjung ) karena medan menuju Guo tersebut sangat sulit dan membutuhkan sedikit perjuangan. Yang membuat saya kagum yaitu ternyata selain daerah suing mempunyai pantai yang begitu indah, terdapat beberapa obyek lagi yang tidak kalah indah dan menantang yaiutu Goa Sumenep.

Demikian cerita perjalanan saya dalam menangkap sebuah gejala arsitektur yang ada di alam sekitar kita… hikmah yang dapat saya ambil dari perjalanan kali ini adalah betapa indah alam sekitar yang kita huni ini, dan ini merupakan bukti dari kebesaran Sagn Pencipta, untuk itu sebagai rasa syukur ke padaNYA kita wajib memelihara dan melestarikan alam sekitar kita… wassalam

_______________________________________________________________________

Nama : Kurnia Dwi Prawesti

NIM : I 0206013

CATATAN PERJALANAN KE BANYAK TEMPAT

Sebagai pendatang dari luar kota Solo, saya merupakan salah satu orang yang kurang menikmati dunia di sekitar Solo. Sampai saat ini kunjungan saya ke daerah-daerah si sekitar kota Solo seperti Karanganyar, Boyolali dan lainnya dapat dihitung dengan jari. Misalkan saja ke daerah Tawangmangu, dapat diperkirakan baru sekitar tiga kali sampai saat ini.

Suatu saat saya diajak oleh salah satu teman saya ke wilayah sekitar Tawangmangu. Saat itu kebetulan asaya sedang tidak ada kerjaan. Saya langsung mau diajak jalan-jalan. Akhirnya sekitar jam 11 siang, kami meluncur ke daerah tawangmangu. Ternyata tujuan yang tadinya saya kira menuju Taawangmangu ternyata bukan. Dengan mengambil jalur menuju candi Sukuh, kami menuju desa yang bernama Berjo. Di situ kami makan di warung makan langganan teman saya. Setelah cukup mengisi perut kami melanjutkan perjalanan melewati Desa Karangtaji kemudian ke desa Godang, pada akhirnya di desa Tambak.

Di desa Tambak kami sebenarnya berniat untuk mengunjungi seorang kolektor tanaman hias yang merupakan kenalan teman saya yang juga seorang penggemar tanaman hias. Tapi karena kami tidak menjumpainya, maka kami pulang. Dari situ teman saya menunjukkan sebuah jalan yang ternyata merupakan shortcut menuju puncak Lawu. Jalan tersebut sepengamatan saya merupakan jalan alternatif yang tidak terlalu menanjak. Jalannya pun termasuk lumayan sebagai jalur pendakian, karena sudak dibangun jalan kerikil. Namun menurut cerita teman saya, jalur yang ternyata merupakan jalur penduduk yang mencari kayu tersebut, termasuk jalur yang cukup sulit. Dengan kemiringan lebuh dari 55° jalur tersebut cukup sulit. Namun jarak menuju puncak hanya sekitar 3 jam perjalanan.

Setelah dari desa tambak,kami kembali ke desa Berjo. Dari pertigaan ke arah Candi sukuh, kami mengambil jalur tersebut. Selama perjalanan kami mendiskusikan mengenai kontur wilayah tersebut, view, serta iklim daerah tersebut serta berangan-angan mengenai pemanfaatan wilayah tersebut,karena kebetulan teman saya tersebut merupakan mahasiswa Jurusan Teknik Sipil di UNS juga.

Di perjalanan,kami mampir ke candi Cetho. Dalam perjalanan ke Candi Cetho, saya menjumpai sebuah lapangan yang berada di sebuah puncak bukit. Jadi dari lapangan tersebut dapat melihat ke seluruh arah, juga bagus dilihat dari daerah yang lebih tinggi. Saya membayangkan ketika ada pertandingan sepakbola di sana dan saya kira akan sangat keren moment tersebut.

Di daerah Candi Cetho juga saya rasa cukup unik. Desa yang berada sekitar candi, di setiap main entrance dibangun gapura model Hindu yang mirip style Bali. Hingga gapura SD pun juga seperti itu. Rasanya seakan berada di Bali. dan kalau saya foto di sanapun pasti banyak yang akan mengira lokasinya di Bali.

Setelah puas mengamati daerah tersebut, kami menuju ke arah Sragen melewati Kemuning kemudian Desa Jenawi hingga ke Sragen. Di kemuning saya melihat kebun teh yang pola penanamannya rapi dan saya rasa cukup bagus. Bahkan kalau kepingin ke kebun teh, saya kira tidak perlu ke Puncak, ke sana pun suasananya cukup mendukung bagi saya.

Sepanjang perjalanan menuju Sragen,saya melihat garis marka jalan yang tidak rapi. Dari situ saya simpulkan bahwa pembangunan belum maksimal di daerah itu. Walaupun sudah memiliki jalan aspal, namun masihlah kurang. Akan tetapi hal baik yang saya dapat dari sana adalah bahwa kerjasama antar warganyapun cukup baik. Tanpa bantuan dari pemerintah saya menilai bahwa penggambaran marka jalan yang dibuat manual tersebut m,erupakan hassil gotong royong warga.

Setelah sampai di Sragen, kami mapir sebentar ke rumah teman kami hingga waktu maghrib. Setelah maghrib, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Solo. Begitulah catatan perjalanan saya..

PGS, siangnya panas...malamnya dingin


Kalo para pelancong tertarik pergi ke Solo jelas ga akan pernah yang namanya ketinggalan buat mampir ke Pasar Klewer dan PGS yang katanya “Tanah Abangnya wong Solo” gitu de… Berkunjung ke Solo kurang lengkap jika tidak melihat-lihat dan membeli kain batik. Salah satu tujuan wisata andalan di Kota Solo selain keraton adalah wisata belanja, terutama batik. Banyak alternatif lokasi dan pusat perbelanjaan untuk dijadikan tujuan berbelanja batik. Mulai dari kain batik tulis dengan motif Solo, batik cap atau printing, baju batik, kain sprei batik, hingga sarung bantal, gorden dan segala aksesoris berbau batik, tersedia di Solo. Selain itu banyak juga toko yang menyediakan berbagai accesories, sepatu, tas dengan harga yang tergolong murah, apalagi jika belinya secara grosiran.
Salah satu tempat yang banyak menyediakan koleksi batik adalah Pusat Grosir Solo atau orang biasa menyebut dengan PGS. Lokasinya berada di sebelah timur Perempatan Gladak, tidak jauh dari Kraton Surakarta dan Pasar Klewer. Lokasi PGS berjejer dengan Beteng Trade Center (BTC), persisnya di sebelah baratnya.
Bagi yang ingin berkunjung di PGS bisa memarkir kendaraannya di kompleks BTC maupun sebaliknya pengunjung BTC bisa memarkir kendaraannya di PGS. Kebanyakan toko atau tenant di PGS mulai tutup pada sore hari sekitar pukul 16.00 -17.00 walaupun pada waktu waktu tertentu buka sampai malam hari, seperti misalnya ketika ada festival musik atau makanan di
lantai paling atas.(bahasa saya terlalu baku, jadi susah crita nih, so pake bahasa sehari2 aja yah, biar gampang,piss:)
Sebagai warga Solo yang tidak mau disebut “katrok” oleh Mas Tukul ga mungkin banget kalo ga tau atau belum pernah pergi ke PGS. Naik motor dari rumah saya cuma berjarak 5x lampu
“bangjo” (deket banget khan..?). Barangnya lumayan lengkap mulai dari kebutuhan anak-anak sampai kakek-nenek ada di sini. Harganya lumayan murah meskipun bisa tawar menawar dan yang pinter nawar pasti dapat harga bagus. Meski namanya Pusat Grosir Solo, ga usah khawatir, ada barang ecerannya juga kok. Tempat belanjanya sebenarnya nyaman dan ber-AC.
Penataan space buat pedagang pun sebenarnya juga longgar, tetapi kenapa ya tiap kali kesana saya selalu kepanasan? Apalagi kalau lagi “ngenyang” alias nawar harga (butuh energi khusus kali ya?, kalau berhasil nawar itu kebanggaan tersendiri lho,hehehe.)
Pas ke sana “ndilalah” pas hari Minggu (lupa kalau itu hari Minggu), alhasil parkiran rame banget. Sampe-sampe harus naek ram ke lantai 4 (bareng-bareng sama mobil agak ngeri juga, moga-moga ga ada yang pake mobil otomatis ,hehehehe) Huff, dan akirnya sampe juga ke lantai 4 dan ternyata….ada tempat parker dadakan yang dipersiapkan khusus (kasian banget, padahal lantainya keramik lho ,sungguh sayang..). sebelum turun tuk berperang melawan penjual disana, saya keliling dulu ngliat keadaan di lantai 4.
Ternyata sebenarnya lantai 4 itu juga bakal dijadiin tempat jualan. Kok bisa? Dari lantainya udah keliatan di kapling-kapling. Batas kaplingan dikasih keramik warna coklat (kalo ga salah ding,lupa!). Sudahlah, mungkin lagi apes memang, berhubung rame banget, dibawah apa lagi. Akhirnya cuma foto-foto sebentar trus pulang deh…

Ada lagi yang baru di daerah sana, Galabo namanya. Galabo, Gladak Langen Bogan. Intinya pusat jajan pokoknya! Tiap malem, jalan di depan PGS dan BTC di tutup, trus dipasangi meja-meja (kaya China Town kalo diliat dari atas). Jadi kalo ke Solo, siangnya belanja baju & batik di PGS/klewer/BTC, nah malamnya tinggal nongkrong di Galabo. Jangan lupa pake jaket, soalnya anginnya cukup kenceng. Catatan, jangan ke sana malem minggu, ramenya minta ampuuun…!!..


ps: aku juga lupa kalu hari ini tanggal 10...(maap telat,ga papa ya bu...;)